
Menjadi Manusia
Suara yang merekam cerita hidup manusia untuk menemanimu kala rehat dari bisingnya dunia.
Episodes
Kehilangan Diri
Kehilangan diri sendiri, bukan cuma seram, ya, rasanya. Malah seperti sesak tak berkesudahan, bingung harus ke mana dan seperti apa bertindak.
Pusing!
Dunia udah begitu sesak, ngerasa juga nggak sih?
Lari dari Keramaian
Rasanya semua orang musuh kita. Tak peduli asing maupun orang terdekat.
Dihajar Cemas, Kita Semakin Kuat
Setiap hari aku digempur kesedihan, penyesalan dari peristiwa di masa lalu, juga rasa rendah diri karena tak bisa sebaik teman-temanku. Barangkali ini mengapa aku menyimpan duka erat-erat.
Bosan dengan Kata "Bertahan"
Menangisi masa lalu dan mencemaskan masa depan.
Panduan Menghadapi Kehilangan (Kolaborasi Bersama Sena)
Yang berduka kamu, yang tau waktunya ya juga kamu. Sehari, seminggu, sebulan, atau setahun, ambil selama apa pun kamu mau. Toh, berduka nggak punya tenggat waktu. Nikmati episode Kontemplasi terbaru dari Menjadi Manusia yang berkolaborasi bersama Sena!
Jangan Terburu-buru Memberi Jawaban
Setiap "masalah" memiliki dua sisi, tergantung pada bagaimana kita memilih untuk melihatnya. Jadi, sebelum kita terburu-buru memberikan jawaban, ada baiknya kita memberi diri kita sedikit waktu untuk berjeda, merenung, dan menguraikan satu per satu keruwetan dalam kepala.
CintaMu Mengalir Tanpa Syarat
Menjadi dewasa memang penuh konsekuensinya, banyak tanggung jawabnya. Kuatkan langkahku Tuhan, untuk bisa terus berada di jalanmu.
Greysia Polii: Bermimpi, Dobrak Batasan, Jadi Juara
Menjadi ganda putri Indonesia pertama yang berhasil menembus final badminton Olimpiade Tokyo 2020, Greysia Polii memberikan pelajaran penting bagi kita tentang kehadiran perempuan untuk memiliki hak-hak yang setara dan bebas berpartisipasi dalam bidang apa pun.
Dalam rangka menghitung mundur perayaan Hari Perempuan Sedunia tanggal 8 Maret 2024, Menjadi Manusia menghadirkan Greysia Polii yang akan
Cinta Harus Saling Menyelamatkan
Bukankah cinta seharusnya menjadi suara lembut yang merawat, bukan kata-kata yang menyakiti?
Ketika Kita Mampu Melepaskan
Bukankah cinta seharusnya menjadi suara lembut yang merawat, bukan kata-kata yang menyakiti?
Pemilu 2024: Setiap Lima Tahun Sekali, Harapan Diobral
Pemilu 2024 sudah di depan mata. Barangkali, kamu menonton video ini sebelum mencoblos, ketika sudah membulatkan pilihan, atau bahkan saat jari kecilmu sudah merasakan tinta ungu.
Apa pun yang terjadi, siapa pun pemimpinnya, semoga kita terus memupuk cinta kepada sesama. Jalinan kasih dan persaudaraan yang telah terbangun selama ini tidak sepadan untuk dikorbankan. Ingatlah, cinta kita lebih besa
Manusia Berubah dan Tidak Berubah
Manusia berubah. Orang yang kita cintai, orang yang kita kenal, bahkan diri kita sendiri—kita semua berubah. Tak ada yang dapat menyangkal takdir perubahan ini.
Kehilangan Tanpa Kalimat Perpisahan
Dan yang menyakitkan dari jarak adalah kehilangan tanpa kalimat perpisahan. Setiap kita tidak akan tergantikan, sekalipun ada penggantinya.
Tentang Januari yang Terasa Lama
Kita ingin cepat sampai. Kita ingin merasakan sensasi diri yang berhasil tiba pada hari yang dinanti-nanti.
Terburu-buru Mencari Kesimpulan
Cemas bukanlah musuh, melainkan teman setia yang selalu menemani setiap langkahku.
Oase yang kelak Melegakan Kita
Pada akhirnya, ketenangan dan kebahagiaan tak hanya terletak pada hal-hal besar, tetapi juga dalam momen-momen sederhana.
Aku Mencintaimu, maka Aku Melepaskanmu
Tangan kita mulai merelakan dekap satu sama lain dan kata selamat tinggal dilantunkan.
Hitung Mundur dengan Nyali
Sobeklah kalender yang lama, buang barang-barang yang sudah tidak ada artinya, dan singkaplah tahun yang baru. Tak ada yang perlu ditakuti. Hitung, hitung mundurlah dengan secukup-cukupnya nyali.
Berani untuk Dirimu Sendiri
Banyak yang perlu kita tinggalkan di tahun ini. Orang-orang yang membebankan, pekerjaan yang menguras kewarasan jiwa, serta bayang-bayang kenangan cinta yang sering kali menghantui.
Panjang Umur, Serta Mulia, Selamat Natal
Selamat Natal untuk kita semua, selamat mengambil waktu untuk merefleksikan kembali tentang makna kelahiran yang menjadi kabar baik sehingga membuat kita mau menghidupi hidup kita.
Kenangan yang Mengiris
Mengapa pula kita harus bertemu dengan keindahan lalu berujung berpisah? Aku belajar untuk menerima setiap tikamannya dan keindahan yang ada.
Teruntuk Ibu
Hari-hari yang kita habiskan bersama menjadi benang-benang memori yang sulit aku lepaskan, menyatukan kita di ruang abadi kenangan.
Kita Akan Terus Belajar
Sekali lagi. meskipun jalannya terlihat sulit, kita akan terus belajar hari demi hari.
Hadapi Lagi Hidupmu, Hidupi Terus Hidupmu
Menuju penghujung tahun, sering kali rasanya seperti sebuah perjalanan tanpa pencapaian yang berarti.
Terlalu Lemah untuk Menjadi Kuat
Mungkin ketakutanku dahulu dan kita hampir sama, yang sekarang menjelma jadi keberanian dalam menghadapi gemuruh.
Sebuah Catatan Kecil Sebelum Kembalinya Januari
Mari kita lihat kenangan sebagai pembelajaran. Kita susun ulang semua rencana. Kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi di tahun berikutnya.
Desember dan Segala Cemasnya
Riuh hujan perlahan mereda. Aku terima Desember sebagai puisi terakhir, sebelum judul-judul baik lainnya aku rangkai dari tepian jendela.
Kesepian Membunuh, Kita Tak Mati
Kesepian membunuh. Tapi tidak ada satu pun yang mati. Kamu tersiksa dalam keadaan hidup. Dan bukankah itu adalah sakit yang tiada tara?
Tolong Kabari Aku Cara Mencintaiku
Berbuat sebaik mungkin pada orang lain itu baik. Tapi berharap atas balasan dan perlakuan yang baik pada kita, itu adalah tanda bahaya; ada risiko patah hati yang luar biasa.
Mencari Posisi sebagai Manusia
Ada kekuatan maha besar yang mengatur semuanya. Buktinya kita akan mengingat betapa kuat kita bertahan.
Tenggelam dan Tumbang, Kamu Tahan Banting
Belakangan ini kamu enggan mengizinkan aku untuk bersarang di sana? Ada apa? Matamu terlihat sayu. Apimu sayu. Aku hanya melihatmu dalam lipatan jarak.
Semoga Umur Panjang, Ayah
Panjang umurlah Ayah menjadi seindah matahari terbit yang selalu aku rindukan dari pagi ke pagi.
Pertempuran dan Pahlawan Sesungguhnya
Kita sering lupa, bahwa saat ini yang seharusnya menjadi pahlawan bagi kita adalah diri sendiri. Tapi, kita terlalu takut untuk berperang dengan diri sendiri, bahkan kita muak untuk menilik ke dalam. Padahal ada pertempuran sejati yang harus didamaikan di sana, yaitu ego.
Darah dalam Berita
Darah, darah dan benci di mana-mana. Opini-opini liar berserakan di luar sana. Tenangkan pikiranmu sejenak. Bersama-sama, mari sanggah napas kita yang sedang memburu.
Berhenti Mewakili Suara Tuhan
Hanya karena kita tidak mengalaminya, hanya karena hidup kita selalu menemukan akhir cerita yang baik-baik saja, bukan berarti itu berlaku untuk semua orang yang kita temui. Apakah sulit, sedikit saja menunjukkan kebaikan hati?
Entah Kelak Kehidupanku Akan Seperti Apa
Sayangnya, aku tergolong orang-orang yang termarjinalkan. Aku tidak pernah terbayang dalam posisi ini.
Benci Berjalan di Tempat
Karena kita manusia yang benci stagnansi.
“Tidak Apa-Apa” Sewajarnya dalam Riuh Kehidupan
Kini, aku hanya berusaha ber-”tidak apa-apa” sewajarnya dan secukupnya saja, agar diri ini dapat kembali memperjuangkan dan menyambung kehidupan. Aku tidak lagi ingin, untuk memaksakan diri.
Ketakutan Menghantui, Aku Bertarung dengan Waktu
Perpisahan adalah salah satu sisi koin dalam mata uang bernama perjalanan. Aku, kita, harus sesekali membayarnya dengan ucapan selamat tinggal.
Mencintai Diri & Lewati Titik Terendah Tanpa Support System - #BerbagiPerspektif Sarra Tobing
Sarra Tobing dalam Berbagi Perspektif kali ini akan berbagi perjalanannya tentang trauma dalam keluarga, hubungan toksik, hingga berdamai dengan keadaan dan mencintai diri sendiri.
Di Antara Meja Tugas dan Batin yang Terluka
Aku adalah seseorang yang terikat pada meja, kursi, serta laptop. Terjebak dalam sebuah dunia yang tak kenal lelah.
Doa untuk Kewarasan Kita
Mungkin itu semua terdengar seperti potongan kecil dalam perjalanan kita, tapi inilah bagian dari cerita kita yang tak tergantikan. Aku ingin mengingatkan kalian semua untuk merayakan diri sendiri, merayakan perjuangan, dan merayakan hidup. Semoga kita semua bisa menjalani sisa tahun ini dengan penuh kebahagiaan dan harapan.
Rindu kepada Seseorang yang Bisa Mendengarkanku
Dalam dunia yang kadang menyeramkan ini, semoga Tuhan menghadirkan sosok-sosok baik dalam hidup kita; mereka yang membawa cinta, pengertian, dan dukungan yang kita butuhkan.
Cukupkan Beban Pikiranmu Malam Ini
Dalam perjalanan ini, cobalah untuk memaafkan mereka. Memaafkan bukan sebagai wujud pengampunan kepada mereka, melainkan sebagai seindah-indahnya hadiah untuk dirimu sendiri.
Apakah Kita Sedang Berjalan di Tempat?
Lantas, apa memang kita berjalan di tempat? Apa memang kita tak berkembang? Atau kita hanya selalu membandingkan diri kita dengan sesuatu yang bukan kapasitas kita?
Merawat Anak Kecil dalam Diri - #BerbagiPerspektif Nadin Amizah
Sejalan dengan lagu terbarunya berjudul “Tawa”, Berbagi Perspektif kali ini menghadirkan Nadin Amizah yang menceritakan pengalaman hidupnya tentang inner child serta mengenali dan menerima ketidaksempurnaan pada diri.
Jika Cinta Semakin Rumit, Bertahan atau Melepaskan?
Dalam hidup, ada saatnya kita harus bertahan dengan sabar, dan ada saatnya kita harus menyadari bahwa ada hal-hal yang lebih baik jika kita tinggalkan.
Momen Me Time: Menemukan Ketenangan dalam Keheningan
Dalam keheningan, mungkin kamu akan menemukan kekuatan baru yang datang dari pertanyaan. Mungkin kamu akan menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Dan yang pasti, kamu akan menemukan kedamaian.
Yang Jarang Dibicarakan soal Perbedaan: Rasa Sepi
Buatku, itu benar. Perbedaan memang menyatukan. Namun, ada satu hal yang jarang dibicarakan menyoal keberagaman, yaitu kesepian.
Mungkin Saja, Kita Akan Segera Menyukai Masa Depan
Bagaimana kalau ternyata kita akan menyukai masa depan? Masa depan ketika cita-citamu dan cita-citaku tercapai. Masa depan ketika kita selesai bekerja, dan pulang disambut oleh pelukan hangat dari orang yang kita sayangi atau hewan peliharaan yang sudah rindu diajak main sepanjang hari? Kamu tidak penasaran apakah suatu hari kita akhirnya benar-benar bisa merasa baik-baik saja?
Sepi dan Sendiri
Karena ketika kita sudah terbiasa sendiri, kita akan lebih siap jika sewaktu-waktu sepi datang menghampiri. Karena pada akhirnya, teman yang tidak akan pernah meninggalkan kita dalam keadaan seburuk apa pun ialah diri kita sendiri.
Haruskah Aku Segera Menikah?
Sampai-sampai diri ini bertanya apakah aku buruk ketika aku tidak berada di situasi seperti mereka? Apakah aku tidak menarik? Atau sebenarnya mereka yang terburu-buru?
Tambat yang Tepat
Ragam pertanyaan melayang, tanpa jawaban pasti, sementara uang dan belahan jiwa tetap jauh dari genggaman. Pernikahan ternyata menuntut persiapan yang tak setengah-setengah. Lalu, mengapa terburu-buru?
Pendam Sendiri; Meledak Sendiri
Apa benar ada kebahagiaan sejati di dalam dirimu selama lukamu yang tak kunjung sembuh? Ataukah selama ini kamu hanya berpura-pura di hadapan orang lain?
Hidup Tak Selalu Buruk: Rasa Syukur untuk Jiwa yang Menerima
Aku menyadari bahwa dengan keadaan yang serba tidak pasti, ada saja cara untuk tetap bersyukur. Sesederhana masih diberikan napas dan kesempatan hidup, atas tempat yang cukup untuk beristirahat, dan aku masih bertahan hidup untuk menggapai mimpi-mimpi yang belum tercapai.
Sakit Bisa Sembuh karena Tidak Disangkal
Sakit bisa sembuh karena tidak disangkal. Biarkan malam ini menjadi momen yang tenang untuk hatimu; untuk luka yang menganga namun terpaksa kamu biarkan saja.
Mengeja Asam Garam Kehidupan
Pada dasarnya, kita tidak perlu selalu berlari. Garis akhir yang kita dambakan itu tidak akan pergi ke mana-mana. Apabila memang itu tujuan akhir kita nantinya, toh, kaki ini akan sampai juga di sana,
Mengalah Bukan Berarti Kalah
Terlintas di pikiran ketika mimpi yang dulu mungkin memang belum bisa dicapai, sebenarnya tidak ada salahnya kan ketika memiliki mimpi-mimpi lain di depan sana? Ah, entahlah aku mau mencoba lagi, aku terlalu lelah jika terus tenggelam dalam keadaan ini.
Sebetulnya, Kamu Mengejar Apa?
Benarkah dia juga mencintaiku? Apakah aku orang yang tepat untuknya? Jangan-jangan, kami sama-sama membohongi agar bisa terus bersama?
Saat Semua Terasa Berantakan, Biarkanlah Tuhan Mengambil Kendali
Rencana kamu hancur, impian yang kamu bangun runtuh, dan semua terasa berantakan. Tapi percayalah, di balik setiap kegagalan, ada rencana Tuhan yang lebih baik yang menunggumu.
Tidak Ada yang Berubah, Tidak Ada yang Pernah Sama
Stasiun yang sama. Kereta yang itu-itu juga. Pada dasarnya memang tidak ada yang berubah, atau sebaliknya? Mungkin pada dasarnya tidak ada yang sama lagi.
Pergilah Overthinking, Jangan Renggut Isi Kepalaku Malam Ini
Ketika hatimu mulai dipenuhi keraguan, ingatlah bahwa setiap orang punya prosesnya masing-masing dan waktu yang tepat untuk meraih impian mereka.
Terus Berharap kepada Hari Besok untuk Hal yang Baik
Tidak apa-apa jika tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, ekspektasi memang tidak selamanya terus menjadi nyata.
Biarkan Tangis Itu Jatuh Apa Adanya
Aku membiarkan tangis itu keluar, mengizinkan diriku untuk melepaskan beban yang kurasakan selama ini. Air mata jatuh di pipiku, mengalir sebagai simbol pembebasan dari penindasan diri terhadap diri sendiri.
Berbagi Kerapuhan dan Mencintai Diri
Sadarilah bahwa mempunyai relasi dengan orang lain bukan batasan untuk berhenti mencintai diri. Sebaliknya juga begitu, mencintai diri sendiri bukanlah kerangkeng untuk tidak peduli terhadap yang lain. Keduanya adalah langkah kaki yang seiring.
Kehilangan Diri Sendiri
Aku merasakan kekuatan dan keteguhan batin yang kudapatkan dari momen istirahat ini. Aku mengambil napas dalam-dalam, menyingkirkan beban dan kelelahan yang kurasakan sepanjang hari. Hari Minggu ini, aku duduk di tepi tempat tidur dengan kesadaran yang lebih dalam.
Sudahkah Kamu Mendengarkan Kamu?
Pertanyaannya, sejauh perjalanan ini, apakah dirimu sudah begitu mendengarkan dirimu? Bukankah kamu punya banyak sekali cerita di dalam diri? Sebelum membagikannya kepada orang lain, bukankah, kamu adalah pendengar untuk cerita yang kamu tuliskan juga?
Sibuk Mengenang, Lembur Berandai-andai
Distraksi makin banyak. Media sosial bertambah lagi. Waktu seolah menipis
Sudah Saatnya untuk Kamu Berbahagia
Terlihat hari ini air matamu yang sering berjatuhan itu telah usai. Aku sangat tenang melihat dirimu seperti sekarang.
392. Ada Saatnya untuk Meninggalkan
Kondisi semakin memburuk, sampai-sampai mengabaikan diri. Kamu masih berusaha agar terus berpikir positif, selalu memikirkan hal baik yang belum tentu sepenuhnya benar.
391. Kamu Layak untuk Bebas
Sekali lagi, kamu adalah manusia yang layak untuk merasakan kebebasan dan mendapatkan hidup pada lingkungan yang mendukung serta penuh cinta di dalamnya.
390. Kita Lebih Kuat dari yang Kita Pikirkan
Kalau membandingkan terus-menerus, bagaimana mau lanjut melangkah? Percayalah, kita lebih kuat dari apa yang kita pikirkan.
389. Maaf, Aku Terlalu Keras dengan Diri Sendiri
Mungkin kamu terlalu keras dengan diri sendiri, merasa harus terus bekerja keras demi memenuhi target yang terlalu tinggi. Sempat juga merasa bingung dengan identitas diri dan secara tidak sadar kamu memutuskan koneksi dengan dirimu.
388. Seseorang yang Sedang Belajar Menerima
Percayalah, setiap orang memiliki porsi kemampuannya masing-masing. Aku juga sudah muak, terlalu ambil pusing dengan hal-hal yang mengganggu langkahku. Kini lebih baik kita mencoba untuk lebih berani atas segala keputusan yang diambil. Aku merasa perlu mendekatkan diriku kepada diriku, aku perlu menyentuh dan memedulikannya.
387. Cintailah Dirimu, Sebelum Mencintai Orang Lain
Tenang, beri jeda, tariklah napas sejenak, aku tau kamu pasti sulit untuk mengubah kebiasaanmu itu. Semua akan baik-baik saja pada waktunya, toh mencintai diri sendiri ada untungnya bagimu, wahai anak baik.
386. Merayakan Juni, Menikmati Batas
Juni adalah pembatas dalam buku yang belum rampung, sebuah pengingat untuk segala kabar yang harus kita terima, entah itu tentang plot atau pengalaman hidup yang acakadut; tokoh-tokoh atau teman-teman yang berontak dan memilih menuliskan skenarionya sendiri.
385. Biarlah Pikiran Mereka yang Buruk, Kita Jangan
Daripada mengoreksi orang lain atas salahnya penilaian mereka kepada diri kita, lebih baik kita mengoreksi diri kita sendiri seraya berkata, “Kalaulah saya memang tidak seperti apa yang mereka katakan, kenapa saya harus marah?”
384. Melewati Banyak Episode Patah Hati
Aku tidak mencoba menguak luka lama itu. Yang ingin aku katakan, kita telah melewati banyak episode patah hati. Dan sepahit-pahitnya, entah berapa tetes air mata yang telah berderai, atau ngilunya dada saat berusaha terpejam, kita melaluinya.
383. Kebut-kebutan di Dunia yang Ugal-ugalan
Dunia ini sudah begitu ugal-ugalan. Masa iya kita juga mesti ikutan kebut-kebutan? Tidak jarang, yang lambat juga tidak terhindar dari kecelakaan; yang cepat justru selamat dari petaka. Anomali bukan?











